Tag Archives: Vandana Shiva

“Earth Democracy” versi Dr. Vandana Shiva dan Demokrasi Kesukuan

English: Vandana Shiva, noted environmentalist...

English: Vandana Shiva, noted environmentalist in 2007, at Rishikesh, Cropped from Original image at commons, to create a passport size image for Info box in article at wikipedia (Photo credit: Wikipedia)

Manusia di era Pascamodern yang memfokuskan diri kepada Mahatma Ghandi dengan perjuangan secara damai dan Nelson Mandela dengan Tribal ataModel of Democracy (atau Mandela’s Democracy) dan rekonsiliasi sebagai solusi terhadap pengalaman pahit dalam sejarah kehidupan sebuah bangsa menghibur umat manusia memasuki ruang pemikiran yang serba romatis dan idealis dalam mengembangkan pendekatan-pendekatan perjuangan mereka menentang apa ang mereka anggap sebagai penindasan, ketidak-adilan, penjajahan, perusakan alam yang tidak berkesinambungan, tidak demokratis dan sejenisnya.

Gagasan “Tribal Model of Democracy” tidak dikembangkan oleh Mandela sendiri. Saya tidak tahu apakah ia angga model demkorasi ini sudah tidak layak pakai ataukah karena tidak ada waktu untuk itu.  Dalam salah satu pidatonya, Mandela katakan tentang model demokrasi yang dia maksudkan:

“It was democracy in its purest form. There may have been a hierarchy of importance among the speakers, but everyone was heard: …. People spoke without interruption, and the meetings lasted for many hours. The foundation of self-government was that all men were free to voice their opinions and were equal in their value as citizens.*

[Artinya: Itulah demokrasi dalam bentuk yang paling murni. Barangkali ada hierarki menurut kepentinganya di anara para pembicara, tetapi setiap orang didengaran… Orang bicara tanpa interupsi, dan pertemuan-pertemuan berlangsng dalam banyak jam. Fondasi pemerinahan sendiri ialah bahwa semua orang bebas untuk menyampaikan pendapat dan diperlakukan sama nilainya sebagai penduduk]

Walaupun gagasannya begitu bermanfaat bagi kehidupan dan kemanusiaan, pemikirannya itu ditelan oleh romantisme rekonsiliasi, pengampunannya terhadap kaum penjajah yang telah merampok dan macabik-cabik suku-bangsa dan tanah-airnya selama berabad-abad lamanya.

Nelson Mandela kini telah terlampau tua untuk berbicara lagi. Mahatma Ghandi telah meninggal dunia. Akan tetapi mereka memiliki penerus, yang masih mengemban visi dan misi mereka. Banyak orang tidak tahu bahwa Dr. Satis Kumar ialah Ghandi yang diutus ke Eropa, atau Ghandi sedunia hari ini. Ia murid Ghandi, ia penerus visi dan misi Ghandi. (Sementara ini ia memimpin Schumacher College di Inggris dan mengepalai Majalah Resurgence & the Ecologist). Dalam peta global, terlihat jelas Dr. Vandana Shiva ialah penerus perjuangan Nelson Mandela, walaupun beliau sendiri tidak mengakuinya, paling tidak begitu dari pandangan saya secara pribadi.

Dr. Vandana Shiva punya riwayat perjuangan yang di satu sisi sungguh menyentuh hati saya, karena dia seorang Mama yang berjuang untuk kelanjutan

English: Nelson Mandela in Johannesburg, Gaute...

English: Nelson Mandela in Johannesburg, Gauteng, on 13 May 1998 (Photo credit: Wikipedia)

hidup anak-anak dan cucunya, dan kedua karena ia berani mengambil resiko berdiri berhadapan “head-to-head” dengan perusahaan-perusahaan raksasa yang mengembangkan Gegenetically Modified Products. Sadar atau tidak, kebanyakan makanan dan minuman di Indonesia, terutama tahu dan tempe ialah hasil produksi dari kedelai yang sudah dimodifikasi secara genetika (GM Food). Beras yang ditanam di Indonesia ataupun yang diimpor juga GM Food. Genetika dari makanan dimaksud sudah terkontaminasi dengan intervensi sains manusia sehingga makanan dimaksud tidak lagi mengandung unsur-unsur alamiah sebagaimana sediakala.

Dr. Vandana Shiva berdiri menentang GM Products, merintis pengembangan

Ghandi

Ghandi (Photo credit: nilexuk)

bibit padi yang jumlahnya banyak dalam tradisi masyarakat India, dan berdiri membela leluhurnya yang telah mewariskan bibi-bibit makanan untuk anak dan cucu mereka. Ia juga menentang pembangunan dam yang menggusur banyak kampung dengan segenap ekologi kehidupan mereka.

Tidak hanya itu, dialah yang menggagas sebuah demokrasi yang membumi, yaitu Earth Democracy. Silahkan kunjungi situsnya dan kita akan tersenduh oleh perjuangan Mama ini.

Ia menggagas sebuah sistem kepengurusan diri manusia yang ia sebut “Earth Democracy“. Bdalam bukunya berjudul “Earth Democracy”, ia menggariskan 10 prinsip atau ciri “Earth Democracy”.

  1. Pertama, “Ecological Democracy – Democracy of all life” [Artinya: Demokrasi Ekologis – demokrasi dari semua kehidupan]
  2. Kedua, “Intrinsic worth of all Species and Peoples” [Nilai intrinsik dari semua Spesies dan Manusia]
  3. Ketiga: “Diversity in Nature and Culture” [Keragaman Alam dan Budaya]
  4. Keempat: “Natural Rights to Sustenance” [Artinya: Hal Alamiah dan Berkecukupan]
  5. Kelima: “Earth Economy is based on Economic Democracy and Living Economy” [Artinya: Ekonomi Bumi didasarkan pada Demokrasi Ekonomi dan Ekonomi Kehidupan]
  6. Keenam: “Living Economies are built on Local Economies” [Artinya: Ekonomi Kehidupan dibangun di atas Ekonomi Lokal[
  7. Ketujuh: “Living Democracy” [Artinya: Demokrasi untuk Hidup atau Demokrasi berdasarkan realitas Kehidupan]
  8. Kedelapan: “Living Knowledge” [Artinya: Pengetahuan untuk Hidup atau Pengetahuan dari Kehidpuan]
  9. Kesembilan: “Balancing Rights with Responsibility” [Artinya: Menyeimbangkan Hak dengan Tanggungjawab]
  10. Terakhir kesepuluh: “Globalizing Peace, Care and Compassion” [Artinya: Mengglobalkan Perdamaian, Keperdulian dan Kasih-Sayang]

Dari kesepuluh prinsip ini, dan dari tulisan-tulisan lain kita ketahui bahwa titik tolak perjuangan Dr. Shiva ialah menanggapi upaya penyeragaman, heterogenitas versus homogenitas, dengan pijakan keragaman budaya dan keragaman spesies harus dibela/ dipertahankan dengan cara menentang penyeragaman dan mengembangkan bibit, tanaman, budaya yang brankaragam yang diwariskan nenek-moyang kita. Ia mengadvokasi kepentingan keragaman atau warna-warni kehidupan di muka Bumi. Ia mulai dari bibit beras, lalu meluas ke berbagai aspekkehidupan manusia.

Secara konseptual, gagasan Dr. Shiva lebih luas kepada kehidupan dan keragaman, dalam dialogue antar ilmuwan dan pakar dalam menghadapi fenomena homogenisasi dan modifikasi genetika berbagai tanaman dan produk makanan. Ia melawan arus penyatuan sistem ekonomi, penyatuan budaya, penyatuan bahasa, sampai kepada penyatuan sistem pemerintahan yang terjadi sebagai proses modernisas atau pembangunan atau kemajuan.

Sementara itu, gagasan “Demokrasi Kesukuan” datang dari konsepsi pemikiran Masyarakat Adat (MADAT), yang merupakan komponen utama komunitas manusia yang terbasmi habis oleh kehadiran demokratisasi dan/ atau modernisasi. Saya dapat katakan bahwa Model Demokrasi Kesukuan ialah salah satu model dari bentuk Demokrasi Tanah (atau Demokrasi Membumi). Gagasan Demokrasi Kesukuan menyajikan sebuah model dari demokrasi yang patut dipertimbangkan di era pascamodern ini. Tujuannya untuk mengadvokasi eksistensi, hak asasi dan kelangsungan hidup MADAT di muka Bumi yang akan berdampak terhadap lingkungan alam, karena MADAT-lah yang telah terbukti sukses menjaga alam ini menjadi tempat yang layak huni.

Perbedaannya hanya terletak kepada latar-belakang sosial-budaya dan politik, yang satu bertindak untuk membela keraaman, sedangkan gagasan Demokrasi Kesukuan mengajukan proposal dalam rangka membela kelangsungan hidup MADAT. Walaupun begitu, keduanya bermaksud menciptakan Bumi yang layak huni dan mewariskannya kepada generasi mendatang. Keduanya berbicara tentang keterlibatan bukan sebatas manusia, tetapi segenap komunitas makhluk dalam proses demokrasi, dalam pengambilan keputusan dan dalam peri kehidpan seharian.

Persamaan yang paling penting untuk diperhatikan terutama oleh akadmisi atau pegiat demokrasi ialah bahwa baik gagasan Earth Democracy maupun Tribal Demokcracy tidak memihak kepada ideologi atau partai politik manapun juga. Ia memfokuskan diri kepada kehidupan, dan kehidupan di sini bukan sebatas peri-kehidupan manusia tetapi kehidupan dari segenap komunias makhluk dan palnet Bumi.

Masyarakat Modern menanggapi dengan Kyoto Protocol, disusul pertemuan dan kebijakan lainnya di Uruguai, Brazil dan Indonesia yang bertujuan mengurangi emisi CO2 dan merintis teknologi hijau, teknologi ramah-lingkungan atau berkesinambungan. Dr. Shiva menggagas Demokrasi Membumi. MADAT Papua menggagas Demokasi Kesukuan. Kaum sosialis percaya bahwa kapitalisme sebagai motor penggerak dari semua malapetaka ini telah bunuh diri dan dikubur pada tahun 2008 dan oleh karena itu kita perlu hidup sesuai prinsip dan pandangan komunisme, kehidupan berorientasi kepada kepentingan bersama, bukan kepentingan segelintir orang ber-uang. Kaum anarkis percaya semua negara di muka Bumi harus bubar sehingga pengerukan dan penindasan, ketidak-adilan dan ketimpangan dapat diimbangi dengan hidup bersama, saling berbagi sebagai sesama.

Semua pandangan modern yang saling bertolak-belakang berputar-putar di ruangan kepentingan manusia, penderitaan manusia, kesejahteraan manusia, kelanjutan hidup manusia di Bumi.Akan tetapi gagasan Dr. Shiva dan gagasan Demokrasi Kesukuan bermuara kepada satu tujuan: kehidupan tidak punah dan tidak  hancur, dan planet Bumi tetap menjadi tempat layak huni bagi generasi-generasi menaang. Yang menjadi pertanyaan kia semua saat ialah, “Kelompok Masyarakat mana yang sejauh ini telah terbukti dari pengalaman berhasil memelihara Bumi dan alam semesta sebagai tempat yang layak huni?” Atau dengan kata lain, “Siapa yang berpengalaman menjaga planet Bumi ini sebagai tempat layak huni?” Atau lebih khusus, “Apakah pernah ada cerita teknologi modern, atau modernisasi itu sendiri memikirkan dan memperjuangkan hak asasi dan aspirasi dari seenap komunitas makhluk dan planet Bumi?

Dalam keseluruhan proses evolusi pemikiran manusia telah ada dua versi tanggapan manusia terhadap fenomena global warming dan climate change yang mengancam kehidupan dan planet Bumi. Tanggapan pertama menekankan tindakan-tindakan manusia agar hidup lebih sederhana, menggunakan teknologi ramah lingkungan dan menekankan kehidupan berbasis kondisi lokal. Gagasan Dr. Shiva menunjukkan sebuah tindakan yang lebih radikal dari sekedar merubah kebiasaan hidup. Ia mengadvokasi tindakan-tindakan manusia untuk keluar dari paradigma berpikir sebuah tindakan untuk manusia semata, melihat manusia sebagai subyek dari semuanya, dan semua makhluk lain sebagai obyek yang siap dikeruk dan dimanfaatkan. Ia membela keragaman yang menopang kelangsungan hidup dan kehidupan di planet Bumi. Demokrasi Kesukuan menyatakan yang pernah terbukti meninggalkan planet Bumi ini sebagai tempat layak huni olisetelah menggarap dan menjalani kehidupan di planet Bumi ini selama sekian juta tahun hanyalah MADAT. Oleh karena itu, model demokrasi yang dapat diadopsi diberi nama “Demokrasi Kesukuan” atau bisa dikatakan “Earth Democracy” atau bisa jiga “Bio-Democracy” atau juga “Holistic Demoracy”. Tidak masalah nama apa saja kita gunakan, yang terpenting bagi Demokrasi Kesukuan ialah ada pengakuan bahwa di dalam MADAT ada demokrasi, kedua bahwa demokrasi di dalam MADAT itu telah terbukti mewariskan Bumi ini sebagai tempat layak huni, dan ketiga, bahwa oleh karena itu paradigma berpikir dalam wacana demokrasi kedepan ialah paradigma sistem pemerintahan dari segenap komunitas makhluk yang dijalankan oleh makhluk manusia. Ini sebuah konsep demokrasi holistic, bukan anthropocentric, pemikiran melampaui waktu, bukan sekedar menanggapi fenomena pemanasan global atau perubahan iklim Bumi.

———

* Andrew Nash, The Tribal Model of Democracy, Monthly Review,

Enhanced by Zemanta
Iklan